Jumat, 13 Januari 2012

Happy new year 2012, hampir BROMO !

Mungkin aku telat menulis cerita ini. Satu minggu sebelum tahun baru, teman kuliah tiba-tiba sms mengajak saya untuk malam tahun baruan di gunung Bromo. Wow, Bromo! salah satu tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Perjalanan ini dimulai dengan sebuah pertengkaran antara aku dengan seorang teman. Yak, awal perjalanannya yang tidak begitu bagus.

Aku, Ardi dan Bara berjanji untuk kumpul di depan Java Mall Semarang jam 3 pagi, berhubung alarm yang aku pasang tidak ngefek, akhirnya aku dibangunkan oleh telepon dari Bara, dan dengan prepare seadanya, sampai aku lari-lari menuju Java Mall dan kaos kaki kesayangannku sampai terjatuh di dekat pasar Peterongan dan raib.
Kami berangkat menuju Jogja untuk menjemput Shinta, Titis, Dadang dan Dhina. Perjalanan dimulai dari Jogja jam 9.00 pagi, dan karena berbagai kendala, akhirnya kita sampai dekat Bromo jam 3.00 pagi juga, 24 jam boooo.. naik mobil. Oh iya, dalam pikiranku selama perjalanan, aku sudah membayangkan berada di puncak gunung Bromo jam 00.00 dan menyalakan kembang api di sana. Tetapi rupanya ada sedikit kesalahpahamam, rencana teman-teman ternyata bukan menuju puncak gunung gunung Bromo, tetapi tujuan kami adalah Penanjakan, sebuah bukit dimana para wisatawan bisa melihat gunung Bromo secara utuh dari jauh. Kecewa.
Sampai di Probolinggo, dimana semua wisatawan yang ingin menuju Bromo berkumpul, tukang ojek menjajakan ojeknya, dan penyedia mobil jeep yang menyewakan mobilnya. Tarif per-jeep adalah Rp. 700.000,- harga itu didapatkan setelah tawar-menawar yang cukup sengit. Jauh sekali dari harga mobil jeep yang aku baca dari blog salah seorang temanku. Efek tahun baruan kali ya, jadi harga melambung tinggi, setinggi puncak gunung Bromo. Harga itu termasuk kami diantar ke 3 area wisata, Penanjakan, Puncak gunung Bromo, dan Pasir Berbisik. Yah, sudah sampai sana jauh-juh, rugi kan kalau gunung Bromo nya cuma di lihat, harus dinaikin laah :D


Kami sampai Penanjakan jam 4.30 pagi dan kemudian mendaki Penanjakan, yang ditempuh dengan jalan kaki kira-kira 30 menit, niatnya ingin melihat pemandangan sunrise dan gunung Bromo. Kaya yang di kalender-kelender itu. Tetapi malang, cuaca yang mendung menghalangi kami untuk melihat sunrise yang seharusnya sangat cantik.


Sabtu, 07 Januari 2012

99 Cahaya Di Langit Eropa


Aku mengucekk-ucek mata, Lukisan Bunda Maria dan bayi Yesus itu terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi saja hidungku menyentuh permukaan lukisan, alarm di Museum Louvre akan berdering-dering. Aku menyerah. Aku tidak bisa menemukan apa yang aneh pada lukisan itu. "Percaya atau tidak,pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Illaaha Illallah, Hanum," ungkap Marion akhirnya.

Yak itulah sepenggal sinopsi buku 99 Cahaya Di Langit Eropa, yang membuat aku tertarik untuk membeli dan membaca buku ini, dan subhanallah.. setelah membaca buku ini alhamdulillah sedikit banyak pengetahuan tentang sejarah dan kebesaran agama Islam di masa lalu dapat saya ketahui..

Jumat, 30 Desember 2011

makan SUSHI murah di ROBUCHON

Yup! Sushi! Makanan yang berasal dari negara matahari terbit ini, yang berupa nasi plus lauk yang dibentuk biasanya digulung, aku baru dua kali ini memakannya (ndeso!). Dan sepertinya aku jatuh cinta pada makanan ini. Dulu ketika aku makan di sebuah rumah makan sushi di Jogja, aku merasa rasanya biasa aja, dan yang paling fatal, tidak kenyang! Satu porsi berisi 4 butir sushi bisa dihargai minimal Rp. 20.000,-

Kebetulan hari Jumat kemarin, aku dan teman-teman meluncur menuju Paragon Mall. Ceritanya, kita mau menonton film di bioskop, tetapi kehabisan tiket, jadilah kita nongkrong di Foodcourt Paragon Mall dengan masih memakai kostum kuli.
Foodcourt di Paragon Mall menerapkan sebuah sistem yang unik menurutku. Berbeda dari foodcourt di Mall di Jogja yang menerapkan sistem dimana pengunjung menuju ke counter makanan yang diinginkan, memesan makakan, meembayar, lalu mendapatkan nomor meja dan nantinya makanan akan diantarkan ke meja si pengunjung. Kalau di Paragon Mall, ketika akan memasuki pintu masuk foodcourt, pengunjung diberikan sebuah electric card, yang kalau hilang harus mengganti rugi sebesar Rp. 200.000,- jadi agak deg-deg-an juga, ga mau rugi kalau ngilangin kartu. Jadi kalau pengunjung memesan makanan di counter makanan, si pelayan tinggal menggesek electric card yang pengunjung bawa, dan data makanan apa saja serta berapa harga makanan yang pengunjung beli sudah tercetak di memori kartu tersebut. Ketika si pengunjung akan keluar foodcourt, sudah terlihat mbak-mbak yang nongkrong di kasir-kasir. Pengunjung tinggal menyerahkan si kartu, mbaknya menggesek, dan olalala.. mbak-mbak kasir sudah tahu berapa duit yang harus pengunjung bayarkan.

Electric card


Rabu, 21 Desember 2011

Berubah


"TOKO HATI KALBU"
Lihat film ini dari profil seorang teman di FB (mungkin yang punya facebook bakal ketawa kalau lihat postingan ini), ceritanya lagi facebookwalking ;p , yang ternyata film ini merupakan salah satu dari 8 film terbaik LA Lights Indiemovie 2011.

"Kalau ga ada perubahan, mereka juga ga bakal berubah, kita juga ga bisa ngarepin mereka berubah.
Kitanya yang harus berubah, baru ngarepin mereka berubah"

Kata-kata itu diucapkan si cowok pas si cewek sudah hampir putus asa dan menyerah, nice :)
Love it, ya!