Senin, 23 Mei 2011

Balada JOBSEEKER

Jaman sekarang, egoisme menjadi puncak teringgi dalam emosional mayoritas orang. Semakin sedikit orang yang peduli dengan orang lain, baik dalam pertemanan, maupun percintaan, mungkin keluarga menjadi satu-satunya sahabat setia ketika kita ada masalah. Tetapi, dalam hal-hal tertentu ada saat dimana keluarga tidak bisa memberikan ketenangan batin dan nasihat yang kita butuhkan untuk bisa memotivasi dan membuat semangat kita yang loyo menjadi meloncat-meloncat
.
Kemarin adalah hari pengumuman lolos atau tidaknya aku di sebuah perusahaan "supeerrr". Setelah membuka email dengan perasaan deg-degan, hasilnya ternyata aku ga lolos. It's fine, no prob, begitu pikirku, tetapi ketika menerima sebuah sms yang isinya info kalau ternyata seorang teman dekatku keterima di perusahaan itu, jdeerr, bagaikan dihantam badai, hatiku sakit, sekaligus senang. Aku menangis, untuk pertama kalinya aku menangis karena masalah jobseeker ini, aku terkadang gampang menangis, tetapi bukan untuk masalah kerja, tetapi sekarang entah kenapa itu menjadi satu-satunya alasan air mataku mengalir. Aku sedih, lebih tepatnya sakit, aku juga senang, teman seperjuanganku selama ini akhirnya memperoleh ujung yang manis dari hasil perjuangannya selama ini. Minggu depan dia tanda tangan kontrak dan pergi ke Jakarta, ke kota impianku untuk bekerja selama ini. Best of luck for you. I'm happy and proud of you dear..

Seharusnya di saat seperti ini aku curhat ke keluarga, tetapi dari dulu kenyataannya kalau aku cerita masalah ini mereka tidak pernah memberiku solusi yang tepat, seenggaknya ketenangan hati ga pernah aku dapetkan. Aku maklum, ibuku ibu rumah tangga, yang mungkin belum pernah mengalami bagaimana susahnya mencari kerja, jadi bentuk supportnya lebih ke doa dan ceramah panjang lebar yang maaf Ibu, ehm, malah membuatku tambah pusing. Bagaimanapun juga, terimakasih Ibu, telah berusaha menyupport aku semampumu. Ayahku bukan orang yang pintar berbicara, tidak pintar membuat kata-kata, jadi ayahku cenderung diam dan setiap aku curhatin tentang masalah ini malah cenderung bingung sendiri. Saat ini aku sedang benar-benar butuh tukang setrum untuk menyadarkanku bahwa hidup ini indah, ga perlu besedih hati. Kakak adalah orang yang pintar menasihati dan menurutku paling pas untuk diajak curhat, tetapi dia sendiri lagi sibuk dengan tugas akhirnya. Setelah keluarga tentu pelarian utama adalah pacar, tetapi pacarku sendiri belum pernah mengalami yang namanya menjadi jobseeker, tanggapan yang pertama kali aku dapatkan cuma "Oww, memang susah pa?" plaakk, pengen rasanya nampar dia, yahh, memang ga bisa disalahkan. Mungkin memang benar bahwa yang paling tepat adalah pacaran dengan cowok yang lebih tua, karena tentu pemikiran lebih dewasa dan pengalaman hidup lebih banyak dan jauh di atasku. Saat itu aku jadi berpikiran, seandainya pacarku lebih tua, pasti dia bisa memberiku saran dan bimbingan yang tepat, karena pasti dia sudah pernah ngalamin masa ini dan bisa memberikan petuah yang tepat buat aku, yang bisa membuatku lega dan batin yang tenang. Plaaak! inget ka, bersyukur sama Allah, bersyukur sama pacar sendiri.

Tetapi jujur, di saat aku bilang "sedih" seenggaknya aku ingin dihibur, yah, aku tahu tentunya sang pacar juga lagi sibuk dengan skripsinya, lalu kemana aku harus lari? ya kesini, curhat via digital di blog..
Tut tuuut, hapeku bunyi, teman bertanya gimana kabar perusahaan "supeerr"? aku jawab: "Santaiiii.. secepatnya aku akan ngasih kabar baik special buat kamu!"
Memotivasi diri sendiri.

Kadang, saat kita ga bisa mengandalkan orang lain, hanya diri sendirilah yang bisa kita andalkan. Harus jadi gadis yang mandiri, gadis kuat ga akan terjatuh hanya karena masalah seperti ini. Thanks blog, sudah mau menjadi tempat sampahku, i heart you..

2 komentar:

ayainter mengatakan...

ayo semangat ka...

semua uda ada jalannya sendiri-sendiri..

tetep berusaha aja ya :D

Yuka mengatakan...

iya gat.. finally i found what i'm searching for..